Capaian Pembelajaran Akidah Akhlak Fase D Jenjang MTs Sesuai SK Dirjen Pendis Nomor 9941 Tahun 2025

Ali Mursyid
Oleh -
0

A. Rasional

Akidah Akhlak merupakan salah satu mata pelajaran sebagai bagian dari kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) pada madrasah. Akidah berkaitan dengan rukun iman sebagai pokok keimanan yang berlandaskan pada cinta Allah dan Rasul-Nya, yang tersimpan dalam hati serta diwujudkan dengan lisan dan perbuatan. Akidah yang didasari cinta inilah yang mendorong seseorang melakukan amal saleh, berakhlak karimah, dan taat hukum. Akhlak merupakan buah dari ilmu dan keimanan. Akhlak menekankan pada upaya membersihkan diri (tazkiyatun nufus) dari perilaku tercela (madzmumah) dan menghiasi diri dengan perilaku mulia (mahmudah) melalui latihan kejiwaan (riyadah) dan upaya sungguh-sungguh untuk mengendalikan diri (mujahadah). Sasaran utama pendidikan akhlak adalah hati nurani yang merupakan indikator baik buruknya perilaku.

Akidah  Akhlak  memiliki  peran  penting  dalam  pembentukan kepribadian murid. Oleh karena itu, Akidah Akhlak secara bertahap dan holistik diarahkan untuk menyiapkan murid agar berakidah yang benar dan kokoh, serta berakhlak mulia untuk menuntun murid menjadi pribadi yang saleh spiritual dan saleh sosial. Selain itu, Akidah Akhlak juga diarahkan agar murid memiliki pemahaman dasar-dasar agama Islam untuk mengenal, memahami, dan menghayati rukun iman, lalu merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, dan pembiasaan.

Keimanan yang benar terhadap agama Islam harus disertai dengan sikap menghormati penganut agama lain sebagai manifestasi dari cinta diri dan sesama manusia, agar tercipta kerukunan antar umat beragama dan persatuan bangsa. Sikap ini juga merupakan perwujudan dari cinta tanah air. Akidah Akhlak membekali murid agar memiliki cara pandang keberagamaan yang moderat, inklusif, toleran, dan bersikap religius- holistik-integratif yang berorientasi pada kesejahteraan duniawi sekaligus kebahagiaan ukhrawi dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Akidah Akhlak mengarusutamakan pada pembentukan sikap dan perilaku beragama melalui kontekstualisasi ajaran agama, pembiasaan, pembudayaan, dan keteladanan. Iklim akademis-religius perlu diciptakan sedemikian rupa sehingga madrasah menjadi wahana bagi persemaian paham keagamaan yang moderat, internalisasi akhlak mulia, budaya antikorupsi, serta model kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara yang baik bagi masyarakat. Oleh karena itu, pembelajaran Akidah Akhlak memerlukan pendekatan yang beragam, tidak hanya ceramah, tetapi juga diskusi-interaktif, proses belajar yang berpusat pada murid (student-centered learning) yang bertumpu pada cinta ilmu melalui keingintahuan dan penemuan (inquiry and discovery learning), berbasis pada pemecahan masalah (problem based learning), berbasis proyek nyata dalam kehidupan (project based learning), dan kolaboratif (collaborative learning).

Berbagai pendekatan ini memberi ruang bagi tumbuhnya budaya berpikir kritis, kreatif, kecakapan berkomunikasi, dan berkolaborasi sehingga melahirkan pemahaman yang benar, komprehensif, dan moderat (wasathiyah) agar terhindar dari pemahaman yang menyimpang dan liberal. Akidah Akhlak diharapkan memberikan motivasi kepada murid untuk mempelajari dan mempraktikkan akidahnya dalam bentuk pembiasaan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak terpuji ini mencakup spektrum yang luas, mulai dari cinta diri dan sesama manusia dengan menjaga kesehatan fisik dan mental, membangun hubungan yang harmonis, cinta lingkungan dengan aktif menjaga kelestarian alam sebagai wujud syukur, dan  cinta tanah air dengan berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa.

Akhlak terpuji ini sangat penting untuk dipraktikkan dan dibiasakan oleh murid dalam kehidupan individu, bermasyarakat, dan berbangsa, terutama untuk mengantisipasi dampak negatif dari era globalisasi dan krisis multidimensional. Pembelajaran Akidah Akhlak memiliki kontribusi penting dalam menguatkan terbentuknya lulusan sebagai pembelajar sepanjang hayat (minal mahdi ilal lahdi) yang beriman dan bertakwa, serta berakhlak mulia. Dengan demikian, pembelajaran Akidah Akhlak memiliki peran penting untuk membentuk murid yang berkepribadian kuat dan memiliki kompetensi global, mandiri, kreatif, kritis, dan bergotong royong.

B. Tujuan

Pada praktiknya, pembelajaran Akidah Akhlak memiliki tujuan sebagai berikut.

  1. Memberikan bimbingan kepada murid agar kokoh dalam akidah yang dilandasi oleh cinta Allah dan Rasul-Nya, yang berpijak pada paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman murid dalam akidah Islam.
  2. Mengonstruksi kemampuan nalar kritis murid yang didorong oleh rasa cinta ilmu, dalam menganalisis perbedaan pendapat dan mengekspresikan akidah Islam dengan benar, sesuai dengan kemajemukan bangsa Indonesia melalui sikap wasathiyah meliputi tawasuth, i’tidal, tasamuh, dan tawazun.
  3. Membentuk murid agar menjadi pribadi yang berakhlak mulia sebagai wujud cinta diri dan sesama manusia, menghiasi diri dengan perilaku terpuji (mahmudah), dan menghindarkan diri dari perilaku tercela (madzmumah) dalam kehidupan sehari-hari dengan latihan kejiwaan melalui riyadah dan mujahadah.
  4. Membentuk murid yang menjunjung tinggi nilai persatuan sehingga dapat menguatkan persaudaraan seagama (ukhuwah Islamiyyah), persaudaraan sebangsa dan senegara (ukhuwah wathaniyah), juga persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah) yang mencakup cinta lingkungan dan cinta tanah air.

C. Karakteristik

Kurikulum mata pelajaran Akidah Akhlak dirancang dengan karakteristik sebagai berikut.

  1. Pembelajaran Akidah Akhlak meliputi dua bagian yaitu akidah yang terkait penanaman keimanan dan akhlak yang terkait dengan penanaman karakter melalui pembersihan diri dari penyakit hati lalu menghiasinya dengan akhlak mulia.
  2. Pembelajaran Akidah secara khusus diarahkan untuk memperkokoh akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan keimanan murid sebagai dasar, landasan, dan motivasi beraktivitas seharihari sehingga semua perilaku dan aktivitasnya bernilai ibadah dan berdimensi ukhrawi.
  3. Pembelajaran Akidah Akhlak diarahkan untuk menjadikan hati nurani murid berfungsi dengan baik, memiliki keyakinan iman yang kuat untuk menghalau pengaruh buruk dari luar, dan berkarakter kuat sehingga memungkinkan tumbuh kembangnya kesalehan individu dan sosial.
  4. Belajar Akidah Akhlak sebagai upaya memahami hakikat syariat dalam menyucikan diri, menerapkannya dengan melatih kejiwaan (riyadah) secara sungguh-sungguh (mujahadah) melalui keteladanan guru dan kisah-kisah orang saleh.
  5. Mengembangkan kurikulum Akidah Akhlak mengarusutamakan pada pendampingan murid dalam menumbuhkan kemampuan pengendalian diri dan hawa nafsu dengan kecerdasan logika di bawah kontrol kejernihan hati, dalam merespon semua situasi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Penanaman nilai-nilai akhlak kepada murid tidak dilakukan dengan paksaan yang mekanistik, tetapi dengan penghayatan dan penyadaran nilai-nilai positif dari ajaran akhlak yang terinternalisasi dalam diri, menjadi warna dan inspirasi dalam berpikir, bersikap, dan bertindak oleh warga madrasah dalam praksis pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
  7. Pembelajaran Akidah Akhlak merupakan proses pendidikan yang menjadikan hati dan kejiwaan murid sebagai fokus utama. Oleh karena itu, pengkondisian suasana kebatinan proses pembelajaran yang harmonis dengan pendekatan kasih sayang yang jauh dari amarah dan kekerasan harus diutamakan. Kenakalan murid dipandang dengan pandangan kasih sayang (ain al-rahmah).
  8. Hubungan guru dengan murid dibangun dengan ikatan cinta karena Allah Swt. (mahabbah fillah), bukan hubungan transaksional-materealistis, sehingga memungkinkan tumbuh kembangnya perilaku berakhlak mulia dalam iklim akademik.
  9. Mengembangkan pencapaian kompetensi murid tidak hanya pada pemahaman keagamaan saja, tetapi diperluas sampai mampu menerapkan dalam kehidupan bersama di masyarakat secara istikamah hingga menjadi teladan yang baik bagi orang lain melalui proses keteladanan guru, pembudayaan, dan pemberdayaan lingkungan madrasah.
Mata pelajaran Akidah Akhlak terdiri dari dua elemen beserta cakupan/substansinya. Adapun elemen dan deskripsinya sebagai berikut.

Elemen

Deskripsi

Pemahaman Konsep

Pemahaman konsep dalam mata pelajaran Akidah Akhlak adalah sebuah proses yang holistik yang meliputi materi akidah, akhlak, adab, dan kisah keteladanan. Murid diharapkan mampu memahami, menghayati, dan menerapkan nilainilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman ini mencakup tiga aspek utama. Pertama, murid mampu menguasai pengetahuan teoritis, yaitu menjelaskan dan mengklasifikasikan konsep-konsep dasar seperti rukun iman, asmaul husna, akhlak terpuji, dan akhlak tercela, adab, serta kisah-kisah teladan. Kedua, murid harus memiliki kemampuan untuk menghayati dan merefleksikan ajaran tersebut, merenungkan maknanya, serta mengevaluasi perilaku diri agar sejalan dengan nilai-nilai Islam. Puncaknya, pemahaman konsep ini diwujudkan melalui penerapan nyata, sehingga murid mampu mempraktikkan adab dan akhlak dalam berbagai situasi, baik dalam ibadah maupun interaksi sosial.

Keterampilan Proses

Keterampilan proses adalah kemampuan yang tidak hanya berfokus pada "apa" yang diketahui murid (produk pengetahuan), tetapi juga pada "bagaimana" mereka mendapatkan pengetahuan itu. Keterampilan ini merupakan kegiatan yang yang fokus pada proses belajar, aktivitas, dan kreativitas murid dalam memperoleh pengetahuan, nilai, dan sikap, serta mengaplikasikannya dalam kehidupan seharihari dengan melibatkan serangkaian kegiatan mental dan fisik yang sistematis, meliputi kegiatan mengamati, mengidentifikasi, menanya, mengumpulkan dan mengolah informasi, menganalisis, memecahkan masalah, menarik kesimpulan, mengomunikasikan, menerapkan, merefleksikan, dan menyusun rencana tindak lanjut untuk memahami lebih dalam konsep-konsep pengetahuan tersebut.

D. Capaian Pembelajaran

4. Fase D (Kelas 7, 8, dan 9 MTs)

Pada akhir fase D, murid memiliki kemampuan sebagai berikut.

4.1. Pemahaman Konsep

  • Akidah

Menganalisis akidah Islam (iman, Islam, ihsan); menerapkan perilaku yang mencerminkan asmaulhusna (al-Bashith, alGani, ar-Ra'uf, al-Barr, al-Fattah, al-'Adl, al-Wakiil, atThawwab, al-Lathif, al-Qohhar); menganalisis enam rukun iman (Iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari kiamat, qada dan qadar).

  • Akhlak

Menerapkan dan merefleksikan akhlak terpuji (tobat, taat, istikamah, ikhlas, ikhtiar, tawakal, kanaah, sabar, syukur, husnuzan, tawaduk, tasamuh, ta'awun, berilmu, kreatif, produktif, dan inovatif) dan cara menghindari akhlak tercela (riya, nifak, putus asa, ananiyah, dendam, ghadhab, khalwat (pacaran) dan ikhtilat).

  • Adab

Menerapkan adab salat dan zikir, membaca Al-Qur’an dan berdoa; menerapkan dan merefleksikan adab kepada orang tua, guru, saudara, tetangga, dan teman, adab berjalan dan berpakaian, serta menyusun dan menerapkan strategi bijak adab bermedia sosial.

  • Kisah Keteladan

Menganalisis dan menerapkan keteladanan dari kisah-kisah Nabi (Nabi Yunus a.s., Nabi Ayub a.s., Nabi Daud a.s., dan Nabi Sulaiman a.s.) dan keteladanan dari kisah Khulafaurasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib).

4.2. Keterampilan Proses

Keterampilan proses pada mata pelajaran Akidah Akhlak meliputi kegiatan sebagai berikut.

  • Mengamati, mengidentifikasi, dan menanya

Murid dilatih untuk mengamati fenomena kehidupan sehari-hari dan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi. Melalui bimbingan guru, murid diajak untuk mengajukan pertanyaan guna menggali serta mengklarifikasi informasi.

  • Mengumpulkan informasi, menganalisis, dan memecahkan masalah.

Berdasarkan hasil pengamatan, murid secara kolaboratif mengumpulkan, mengolah, dan mendokumentasikan informasi. Kemudian, menganalisis konsep-konsep inti dalam Islam dan menilai relevansinya sebagai solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Proses ini mendorong murid menemukan pemecahan masalah yang konkret dan aplikatif.

  • Menyimpulkan

Setelah menganalisis dan menemukan solusi, murid secara kolaboratif merumuskan kesimpulan yang relevan. Kesimpulan    ini    tidak    hanya    berisi    jawaban   atas pertanyaan awal, tetapi juga mencakup pemahaman mendalam tentang bagaimana prinsip-prinsip Islam dapat diterapkan untuk menyelesaikan masalah yang diamati.

  • Mengomunikasikan hasil

Murid menyajikan hasil temuan mereka secara kolaboratif. Tahap ini melatih mereka menjadi komunikator yang mampu menyajikan solusi secara efektif dan logis.

Komunikasi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti presentasi, laporan tertulis, poster, flyer, infografik, video edukasi atau media kreatif lainnya, sehingga kesimpulan yang diperoleh dapat dibagikan, diberikan umpan balik, dan diterapkan.

  • Menerapkan

Setelah menemukan solusi, murid mampu menerapkan perilaku yang mencerminkan akidah Islam, beriman pada rukun iman, serta mengamalkan asmaul husna. Murid juga membiasakan akhlak terpuji, menghindari akhlak tercela, dan mengaplikasikan adab dalam berbagai konteks, baik dalam ibadah maupun dalam interaksi sosial, termasuk dalam penggunaan media sosial. Murid menyusun dan melaksanakan strategi bijak dalam bermedia sosial, menghadapi konten negatif dengan tanggung jawab, serta mampu mengambil hikmah dari kisah-kisah teladan untuk dijadikan panduan dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.

  • Merefleksikan dan rencana tindak lanjut

Murid mampu merefleksikan perilaku mereka sendiri dan mengevaluasi sejauh mana mereka telah mengamalkan akhlak terpuji, menghindari akhlak tercela, menghubungkan konsep-konsep akidah, ibadah, dan akhlak dengan pengalaman hidup mereka, sehingga ajaran Islam menjadi lebih bermakna.

Sumber: 

Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Arab Jenjang Madrasah Tsanawiyah yang admin rangkum dari Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 9941 Tahun 2025 tentang Capaian Pembelajaran PAI dan Bahasa Arab Pada Madrasah.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)