Oleh:
Ali Mursyid, S.Hum., M.Pd.
(Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTs Muslimin Bojongpicung)
Mengenal Computational Thinking dan Pentingnya dalam Pendidikan
Setiap pagi, banyak dari kita melakukan rutinitas yang hampir sama: bangun tidur, mandi, sarapan, lalu berangkat bekerja atau sekolah.
Tanpa kita sadari, kita telah menyusun serangkaian langkah teratur agar semua bisa selesai tepat waktu.
Bahkan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. seperti kehabisan gas atau hujan turun sebelum berangkat. kita menyesuaikan urutan langkah agar tetap efisien.
Inilah contoh sederhana bagaimana manusia berpikir secara komputasional, atau yang disebut computational thinking (CT).
Berpikir komputasional bukanlah tentang komputer semata, melainkan tentang cara berpikir untuk memecahkan masalah dengan logika, efisiensi, dan ketepatan urutan langkah.
Kita melakukannya setiap hari: saat memasak, menyiapkan jadwal belajar, atau mengatur keuangan rumah tangga.
Semua tindakan itu membutuhkan perencanaan, pengenalan pola, dan pengambilan keputusan yang rasional.
Tujuan Tulisan
Setelah mempelajari tulisan ini, Anda akan mampu:
- Menjelaskan apa itu computational thinking dan perbedaannya dengan cara berpikir lainnya.
- Mengidentifikasi empat komponen utama dalam berpikir komputasional.
- Menemukan penerapan CT dalam kegiatan sehari-hari dan pembelajaran.
- Melatih keterampilan refleksi, perencanaan, dan penyusunan langkah solusi yang logis.
Apa Itu Computational Thinking?
Berpikir komputasional adalah cara berpikir yang membantu kita memecahkan masalah secara sistematis dan efisien.
Ia sejalan dengan berpikir ilmiah atau matematis, tetapi berfokus pada bagaimana kita dapat menyusun solusi dengan prinsip logika seperti yang digunakan oleh komputer.
CT mengajarkan kita untuk:
- Memecah masalah besar menjadi bagian yang lebih kecil.
- Mengenali pola dan kesamaan di antara masalah-masalah tersebut.
- Menyaring informasi yang benar-benar penting.
- Menyusun langkah-langkah logis untuk menyelesaikannya.
Menariknya, cara berpikir ini bukanlah hal baru. Sejak lama, masyarakat Indonesia sudah menerapkannya secara alami dalam berbagai aktivitas. mulai dari petani yang mengatur pola tanam berdasarkan cuaca, hingga nelayan yang menentukan waktu melaut berdasarkan arah angin dan pasang surut air laut.
Empat Komponen Utama Computational Thinking
1. Decomposition (Pemecahan Masalah)
Setiap masalah besar terasa rumit karena kita melihatnya sekaligus.
Namun, ketika kita membaginya menjadi potongan-potongan kecil, semuanya menjadi lebih mudah diatur.
Misalnya, seseorang yang hendak mengadakan acara peringatan Hari Kemerdekaan di lingkungan rumahnya tidak mungkin mengerjakan semuanya sendirian. Ia akan membagi tugas:
- Siapa yang menyiapkan panggung,
- Siapa yang mengurus konsumsi,
- Siapa yang mengatur lomba anak-anak, dan seterusnya.
Begitu juga dalam berpikir komputasional. Kita memecah masalah besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah ditangani.
Setelah pemahaman dasar ini terbentuk, barulah konsep ini bisa diperluas dengan contoh budaya seperti proses pembuatan ukiran Jepara yang terdiri dari tahap desain, pemilihan kayu, hingga penyelesaian detail akhir. Setiap langkah memiliki tujuan dan waktu pengerjaan yang jelas, sama seperti dalam CT.
2. Pattern Recognition (Pengenalan Pola)
Kita hidup di antara pola. Kita tahu kapan waktu macet, kapan biasanya turun hujan, atau kapan harga bahan pokok naik menjelang hari raya.
Kemampuan mengenali pola membuat kita bisa memprediksi dan merencanakan sesuatu dengan lebih baik.
Di sekolah pun, siswa mengenali pola harian: jam 7 masuk, jam 9 istirahat, jam 12 makan siang, jam 2 pulang.
Tanpa melihat jadwal, mereka tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
Dalam CT, mengenali pola berarti memahami keteraturan, kesamaan, atau pengulangan dalam sebuah peristiwa atau data.
Dengan mengenali pola, kita dapat memprediksi hasil, mempercepat proses analisis, dan menghindari pengulangan kesalahan.
Fun Fact
Pola juga menjadi dasar dalam seni tradisional Indonesia. Misalnya, motif batik seperti parang atau kawung selalu mengikuti pola berulang yang mencerminkan keteraturan dan keseimbangan. Cara pembatik mengenali dan mengulang pola ini serupa dengan cara komputer mengenali pola dalam data.
3. Abstraction (Abstraksi)
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada banyak informasi sekaligus.
Namun tidak semuanya penting. Abstraksi membantu kita menyaring hal-hal penting dan mengabaikan detail yang tidak relevan.
Ambil contoh cerita rakyat “Kancil dan Buaya.”
Ketika mendengarnya, kita tidak fokus pada jumlah buaya atau warna sungai, melainkan pada inti cerita: kecerdikan dan kemampuan mencari solusi.
Abstraksi mengajarkan kita melihat inti permasalahan tanpa terjebak pada hal-hal kecil yang tidak perlu.
Dalam pembelajaran, guru dapat membantu siswa menerapkan abstraksi dengan meminta mereka menyimpulkan inti dari bacaan panjang atau menganalisis data besar dengan hanya menyoroti informasi utama.
4. Algorithmic Thinking (Berpikir Algoritmik)
Setiap hari kita membuat urutan langkah tertentu untuk mencapai tujuan.
Saat memasak nasi, kita tahu urutannya: mencuci beras, menakar air, menyalakan rice cooker, lalu menunggu matang.
Jika salah satu langkah terlewat, hasilnya pun tidak sesuai harapan.
Berpikir algoritmik berarti menyusun langkah-langkah logis dan berurutan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Dalam pendidikan, ini bisa dilatih dengan meminta siswa membuat panduan langkah-langkah dalam menyelesaikan sesuatu, seperti:
- Menyusun laporan penelitian.
- Membuat presentasi kelompok.
- Menulis surat resmi.
Dengan latihan ini, mereka belajar berpikir sistematis dan memahami sebab-akibat dalam setiap keputusan.
Fun Fact
Dalam tradisi memasak jamu Jawa, urutan mencampur bahan tidak boleh sembarangan. Bahan tertentu harus direbus lebih dulu agar khasiatnya keluar sempurna. Prinsip ini sama dengan algoritmik thinking, urutan langkah menentukan hasil.
Refleksi dan Catatan Pembelajaran
Setelah memahami empat komponen CT, luangkan waktu untuk menulis refleksi pribadi:
Kegiatan apa dalam keseharian Anda yang sebenarnya sudah menerapkan CT?
Dari keempat komponen tadi, mana yang paling mudah diterapkan di kelas atau pekerjaan Anda?
Apakah Anda dapat menggabungkan dua atau lebih komponen CT untuk menyelesaikan masalah tertentu?
Gunakan buku catatan, Google Docs, atau OneNote untuk menuliskan hasil refleksi Anda.
Fun Fact
Pada tahun 2006, ilmuwan komputer Jeanette Wing memperkenalkan istilah Computational Thinking dan menekankan bahwa keterampilan ini penting bagi semua orang, bukan hanya untuk ahli komputer.
Sepuluh tahun kemudian, ia menulis ulang refleksinya dan terkejut melihat CT berkembang pesat di bidang pendidikan. Kini, berpikir komputasional menjadi bagian dari keterampilan abad ke-21 yang diajarkan di berbagai negara.
Menurut Wing, berpikir komputasional membantu manusia:
- Menganalisis masalah dengan cara yang terukur.
- Berpikir efisien dan logis.
- Mengembangkan kreativitas dalam menyusun solusi.
Berpikir komputasional bukan tentang mempelajari komputer, melainkan tentang belajar berpikir seperti komputer. terstruktur, logis, dan efisien. Dengan melatih CT, kita menjadi lebih siap menghadapi persoalan sehari-hari, baik di dunia pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial. Dari rutinitas pagi yang teratur hingga cara seorang pengrajin menuntaskan karyanya, semua adalah contoh nyata bahwa berpikir sistematis dapat menghasilkan solusi yang lebih baik. Berpikir komputasional adalah keterampilan hidup, keterampilan untuk memahami dunia dengan logika, empati, dan kreativitas.
Referensi:
Microsoft Learn. "Computational thinking and its importance in education". https://learn.microsoft.com/en-us/training/modules/computational-thinking-importance-education/


.png)





Posting Komentar
0Komentar