Oleh: Ali Mursyid, S.Hum., M.Pd.
(Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTs Muslimin Bojongpicung)
Admin - Meraih predikat takwa dengan puasa Ramadhan bukan sekadar slogan tahunan, tetapi tujuan utama yang telah ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an. Setiap Muslim yang dipertemukan dengan bulan suci sejatinya memperoleh kesempatan emas untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan meneguhkan komitmen terhadap syariat Islam secara menyeluruh.
Alhamdulillah, atas karunia Allah SWT, kita masih diberi umur hingga dapat menjumpai Ramadhan. Banyak orang yang berharap merasakan kemuliaan bulan ini, namun takdir Allah telah lebih dahulu menjemput mereka. Karena itu, momentum Ramadhan hendaknya tidak disia-siakan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surat Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa Ramadhan adalah membentuk pribadi bertakwa.
Apa Itu Takwa? Penjelasan Ulama
Istilah takwa mungkin sering kita dengar, tetapi penting untuk memahami maknanya secara mendalam. Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan, mengutip Al-Hasan, bahwa orang bertakwa adalah mereka yang:
- Takut terhadap segala perkara yang Allah haramkan.
- Menjalankan seluruh perintah yang Allah wajibkan.
Penjelasan ini terdapat dalam karya beliau, Jâmi’ al-Bayân li Ta’wîl al-Qur’ân.
Artinya, takwa bukan hanya rasa takut, tetapi diwujudkan dalam ketaatan nyata. Seorang Muslim yang bertakwa akan:
- Menjauhi kesyirikan.
- Melaksanakan kewajiban seperti shalat, zakat, dan puasa.
- Menghindari segala bentuk keharaman.
- Berusaha istiqamah dalam ketaatan setelah Ramadhan berakhir.
Puasa Ramadhan dan Implementasi Takwa Secara Kaffah
Takwa sebagai buah puasa seharusnya tercermin dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya ibadah ritual. Islam mengatur:
- Aqidah dan ibadah
- Makanan, minuman, dan pakaian
- Akhlak dan perilaku
- Muamalah (ekonomi, pendidikan, sosial, dan lainnya)
- Sistem hukum dan sanksi
Seseorang tidak dapat disebut bertakwa jika rajin beribadah tetapi tetap melakukan praktik yang dilarang seperti riba, suap, atau kezaliman. Takwa menuntut konsistensi antara ibadah personal dan integritas sosial.
Takwa dan Bahaya Kesyirikan
Syeikh Ali Ash-Shabuni dalam kitab Shafwah at-Tafasir, ketika menafsirkan awal Surat Al-Baqarah, mengutip pendapat Ibnu ‘Abbas RA bahwa orang bertakwa adalah mereka yang takut berbuat syirik sembari menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.
Kesyirikan tidak hanya dalam bentuk menyembah selain Allah, tetapi juga dalam bentuk menaati hukum yang bertentangan dengan ketentuan-Nya. Allah SWT berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 31 bahwa sebagian kaum terdahulu menjadikan pemuka agama mereka sebagai tandingan selain Allah.
Dalam riwayat yang dijelaskan oleh Imam Al-Baghawi dalam kitab Ma’alim at-Tanzil, dijelaskan dialog antara Nabi SAW dan Adi bin Hatim. Rasulullah SAW menerangkan bahwa menaati aturan yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal termasuk bentuk penghambaan kepada selain Allah.
Hal ini menjadi peringatan agar umat Islam berhati-hati dalam meyakini dan mengikuti aturan yang bertentangan dengan prinsip syariat.
Jangan Sampai Puasa Hanya Mendapat Lapar
Rasulullah SAW bersabda:
“Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar dan dahaga.” (HR Ahmad)
Hadis ini menjadi refleksi penting bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, hati, dan perbuatan.
Puasa yang benar akan melahirkan perubahan nyata:
- Akhlak menjadi lebih baik
- Ibadah semakin berkualitas
- Kepedulian sosial meningkat
- Komitmen terhadap halal dan haram semakin kuat
Ciri Keberhasilan Puasa: Lahirnya Pribadi Bertakwa
Jika Ramadhan berhasil, maka pasca-Ramadhan akan lahir pribadi-pribadi baru yang:
- Menjadikan syariat sebagai pedoman hidup.
- Mengutamakan nilai halal dan haram dalam setiap keputusan.
- Menginginkan kepemimpinan yang amanah dan bertakwa.
- Menolak nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Inilah esensi meraih predikat takwa dengan puasa Ramadhan — bukan hanya perubahan temporer selama satu bulan, tetapi transformasi berkelanjutan dalam kehidupan pribadi dan sosial.
Penutup
Ramadhan adalah madrasah ruhiyah yang membentuk karakter Muslim sejati. Jika dijalani dengan ikhlas, sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, maka ketakwaan bukan sekadar konsep, tetapi realitas dalam diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Semoga kita semua mampu melaksanakan puasa Ramadhan dengan sebaik-baiknya dan benar-benar meraih derajat takwa yang Allah SWT janjikan. Aamiin.


Posting Komentar
0Komentar